Trisno Apri Nugroho

Kita patut bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan Rabiulawal 1447 Hijriah, bulan kelahiran manusia agung yang telah diciptakan Allah SWT, manusia terbaik-teman-maupun yang berbeda pandangan kepadanya mengakui kemuliaannya, menghormatinya. Beliau ialah Nabi Muhammad Sallallahu Wa’alaihi Wasallam.

Pelajaran yang bisa dijadikan hikmah kehidupan pada kelahiran Nabi Muhammad-satu di antaranya yakni peristiwa bersejarah, kala itu terjadinya penyerangan Ka’bah yang dipimpin raja Abrahah Al-Asyram menggunakan tunggangan gajah. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, surah Al-Fil. Peristiwa ini menjadi umum kita dapatkan dalam kajian dan juga pada perayaan-perayaan maulid serta pada kegiatan bertajuk keagamaan.

Yang menarik pula pada kelahiran Nabi Muhammad yaitu dalam shahih al-Bukhari diriwayatkan Abbas bin Abdul Muthalib, bahwa Ketika Nabi Muhammad lahir, Abu Lahab mendapatkan kabar dari budaknya yang Bernama Tsuwaibah. Abu Lahab merasa sangat gembira dan sebagai ungkapan suka citanya, dia memerdekakannya. Nama sebenarnya Abu Lahab ialah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, beliau adalah paman Nabi Saw yang juga menjadi penentang utama risalah dakwahnya-Nabi Saw. Nama Abu Lahab pun diabadikan di dalam Qur’an, Surah Al-Lahab.

Peristiwa di atas sudah lazim didengar dan atau kita baca pada keseharian serta disaat beraktivitas. Mungkin sebagai selingan serta saat dibacakan ayat-ayat pada kejadian tersebut ketika menunaikan salat. Pelajaran sebagaimana saya sampaikan sebelumnya menjadi patron, bisa juga menjadi rule dalam rangka menjalankan tugas sebagai hamba.

Untuk itu, saya tidak spesifik membahas dua peristiwa di atas. Saya hanya menjadikannya intro untuk masuk dalam untaian pengharapan besar terhadap fenomena lingkungan dewasa ini yang menjadi keresahan mahluk bumi keseluruhan. Sudah 1.400 tahun Nabi Saw telah meninggalkan dunia fana ini, tetapi jejaknya masih terasa bahkan hingga kini. Tentu relevansi penjagaan lingkungan ala Nabi masih sangat erat hingga saat ini.

Hadits Nabi Saw, Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon atau menabur benih , lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari dan Muslim). Berikutnya; Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Mengamati hadits di atas, kita akan menemukan pemaknaan bahwa menjaga lingkungan merupakan tindakan mulia. Menanam pohon adalah kemuliaan, merawat lingkungan dengan melakukan kegiatan peminimalisiran limbah dan kemudian pengelolaan sampah juga bagian dari kemuliaan yang mesti kita jadikan habit. Tetapi, fakta yang terhidang hari ini, penebangan liar terjadi hampir di seluruh penjuru negeri, sampah yang merupakan limbah dari manusia terlihat menggunung tanpa perhatian yang berarti.

Kesadaran manusia itu sendiri dipertanyakan terkait pengelolaan limbahnya atau sampah yang dihasilkan dari aktivitasnya. Mengutip dari laman brin.go.id, data sistem informasi pengolahan sampah nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2023, 24 Juli 2024 hasil input dari 290 Kabupaten/Kota se-Indonesia menyebutkan jumlah timbulan sampah nasional mencapai angka 31,9 juta ton. Dari total produksi sampah nasional tersebut, 63,3% atau 20,5 juta ton dapat dikelola sedangkan sisanya 35,67% atau 11,3 juta ton sampah tidak terkelola.

Dampak yang ditimbulkan terhadap kelalaian menjaga lingkungan, ditemukan mikroplastik di tubuh ikan-disebabkan sampah yang begitu banyak terbuang bebas di lautan dan menjadi konsumsi ikan itu sendiri. Mengutip dari detik.com, peneliti ahli utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan lebih dari 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahunnya. Muasalnya tentu dari aktivitas manusia di daratan. Dampak mikroplastik yang dikonsumsi ikan serta ikan menjadi konsumsi bagi manusia tentu menimbulkan dampak tidak baik, bisa saja manusia dalam waktu cepat menderita kanker dan jenis penyakit lainnya.

Belum lagi terkait perubahan iklim yang disebabkan pelepasan karbon dioksida (CO2) dari penggunaan bahan bakar fosil berlebihan serta tindakan deforestasi. Data kerusakan hutan tahun 2024 dirilis simontini.id, mengungkapkan deforestasi Indonesia pada tahun 2024 teridentifikasi seluas 262.575 hektare, meningkat 4.191 hektare dari deforestasi tahun sebelumnya yang seluas 257.384 hektare. Dalam laporan tersebut disebutkan deforestasi terjadi di seluruh pulau besar di Indonesia. Peningkatan deforestasi terjadi di Kalimantan dan Sumatera, sementara deforestasi di Sulawesi, Papua, Kepulauan Maluku, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menurun.

Pada beberapa kesempatan, saya senang mengikuti diskursus dengan berbagai pihak terkait lingkungan dan dampak dari pencemarannya. Saking mengerikannya setiap agenda pembahasan dampak terhadap pengrusakan lingkungan, sampai-sampai seorang aktivis lingkungan yang bergerak pada pertanian alami, beliau adalah bapak Awaluddin Rusdi, Ketua Jaringan Petani Pendidik Pertanian Alami (JAPPPA) Sulawesi Barat-mengatakan kiamat yang dirahasiakan Allah kapan terjadinya, sebenarnya manusia itu sendiri yang membuat kiamat dunia ini. Eksploitasi hutan, pembalakan liar, tidak peduli terhadap limbah, tegas Pak Awal. Saya mendengarnya, sontak kaget dan cepat-cepat merenungi pernyataan tersebut. Memang betul adanya, kitalah, manusia yang menciptakan kiamat dunia jika tidak memperdulikan lingkungan-bumi tempat kita berdiam.

Lalu apa yang mesti dilakukan? Apakah ketimpangan yang terjadi hanya dilimpahkan kepada pemerintah? Atau sebagian dan atau segolongan masyarakat hanya sekedar melakukan protes terhadap kelompok yang berinisiatif mengelola sampah yang notabene mereka yang protes juga menghasilkan sampah-apakah sekedar begitu? Sebaiknya, pada bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw yang juga bertepatan tahun 2025, kita mesti membangun kesadaran kolektif dalam rangka menjaga bumi tempat kita tinggal. Sederhananya, memungut, memilah sampah sesuai jenis. Selain itu, memulai menanam pohon, merawatnya, serta menikmati manfaat dari tindakan mulia tersebut.

Kita tidak perlu menjadi apa-apa untuk merawat lingkungan. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri, bangga kepada diri sendiri, serta memahami identitas kemanusiaan sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi dalam rangka mewujudkan entitas rahmatan lil ‘alamin dengan saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan dengan cara paling sederhana.

Bahan Bacaan:

https://simontini.id/id/status-deforestasi-indonesia-2024

https://brin.go.id/drid/posts/kabar/113-juta-ton-sampah-di-indonesia-tidak-terkelola-dengan-baik

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7536012/lebih-dari-8-juta-ton-sampah-dibuang-ke-laut-ini-bahayanya-menurut-pakar-brin